Nama : Maulana Wardana Kusuma
Tgl lahir : 27-11-1997
Alamat : Waru
Sekolah : Madrasah Aliyah Nu Sidoarjo
Hobi : Menggambar
Cita-cita : -
Minat :Ingin Membahagiakan Orang tua
My Facebook : Maulana Wardana
Jumat, 22 November 2013
Kisah Perjuangan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu
Kisah Perjuangan Bilal bin Rabah
Radhiallahu ‘anhu
Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan
mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan,
walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat
setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih :
Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.
Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alalfalaahi…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.
Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..
Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.
Teori Tektonik Lempeng
Teori
Tektonik Lempeng
Hipotesis Apungan Benua
Saat
perkembangan pembuatan peta dunia pada awal tahun 1900-an, seorang ahli
meteorologi dari Jerman, Alfred Wegener mengemukakan sebuah hipotesis tentang
Apungan Benua (Hypothesis of Continental Drift). Dia mengemukakan
bahwa dulunya ada sebuah super-kontinen, disebut Pangaea, yang
pecah jutaan tahun yang lalu, kemudian benua-benua pecahannya perlahan bergerak
menuju posisinya saat ini dan masih terus bergerak perlahan.Bukti-bukti dari Wegener

Bukti pertama yang diajukan oleh
Wegener adalah adanya kesamaan garis pantai antara Benua Amerika Selatan dengan
Benua Afrika. Apabila kedua benua tersebut disatukan, maka garis pantainya akan
serasi satu sama lain. Kemudian ia juga mengajukan bukti dokumentasi fosil
Mesosaurus yang sejenis dan hanya ditemukan di kedua sisi benua tersebut.
Diyakini bahwa Mesosaurus ini ketika hidupnya tidak akan dapat melintasi
samudera yang luas di antara kedua benua ini. Sisa-sisa organisme yang
ditemukan tampaknya menjadi bukti menyatunya dua benua ini selama Masa
Paleozoikum dan Awal Mesozoikum. Lihat gambar di bawah ini.

Bukti selanjutnya, jajaran pegunungan yang terpotong oleh samudera. Gambar di bawah menunjukkan jajaran pegunungan pada kedua sisi Samudera Atlantik. Pegunungan Appalachia yang terpotong oleh pantai Newfoundland serupa dengan jajaran pegunungan di Kepulauan Inggris dan Scandinavia dalam hal struktur dan juga umurnya.

Bukti terakhir yang diajukan oleh Wegener, untuk mendukung hipotesisnya, adalah iklim masa lampau (ancient climates). Ketika benua-benua disusun menjadi satu untuk membentuk Pangaea, sisa dari material glasial menyatu membentuk pola seperti hamparan es yang menutupi kutub bumi kita hari ini. Lihat gambar di bawah ini.

Teori Tektonik Lempeng
Sepanjang
tahun 1960-an, banyak penemuan teknologi yang kemudian mendorong revisi
Hipotesis Apungan Benua ini menjadi Teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonic
Theory). Pada teori ini, dijelaskan bahwa permukaan bumi dibentuk oleh
kepingan-kepingan litosfer, yaitu lapisan padat dari kerak bumi dan mantel bumi
bagian atas, yang mengapung di atas astenosfer. Astenosfer adalah lapisan
plastis di bawah litosfer yang memiliki sifat seperti fluid yang dapat
mengalir.
Masing-masing kepingan litosfer ini disebut lempeng. Gambar di atas ini menunjukkan batas-batas utama lempeng tektonik dan bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. Gambar di samping menunjukkan pergerakan relatif dan kenampakan yang berasosiasi dengan tiga tipe batas lempeng.
Gambar A adalah
batas divergen, yaitu masing-masing lempeng saling menjauhi satu sama lain.
Terbentuk rekahan pada lantai samudera dan keluarnya magma yang berasal dari
mantel bumi. Gambar B adalah batas konvergen, yaitu ketika dua lempeng
bertemu dan bertabrakan satu sama lain. Terbentuk busur gunungapi pada lempeng
benua. Gambar C adalah batas transform, dimana dua lempeng saling
bergesekan satu sama lain.
Daerah timurlaut Afrika adalah
contoh yang bagus untuk batas divergen. Disini, magma yang keluar merekahkan
lempeng litosfer. Ketika rekah pada litosfer semakin melebar, batuan di atasnya
runtuh dan membentuk zona rekahan. Semakin melebar dan membentuk laut yang
dangkal, seperti Laut Merah.

Kemudian gambar dibawah ini adalah contoh yang bagus bagi benturan antar lempeng benua. Benturan yang terus berlangsung antara India dan Asia, yang dimulai sejak 45 juta tahun yang lalu, membentuk Pegunungan Himalaya.

Apabila benturan yang terjadi antara sesama lempeng benua akan membentuk busur kepulauan vulkanik. Sedangkan bila benturan yang terjadi antara lempeng benua dan lempeng samudera, akan membentuk busur pegunungan vulkanik pada lempeng benua.

Pengertian Tektonik Lempeng
Pengertian Tektonik Lempeng
Lempeng tektonik, proses gelologis yang bertanggung jawab
untuk penciptaan benua, pegunungan dan lantai samudera bumi, mungkin adalah
semacam on-off. Ilmuan telah menganggap bahwa pergeseran lempeng kerak telah
melambat namun terus terjadi pada sebagian besar sejarah bumi, namun studi
terbaru dari peneliti2 di Carnegie Institution menyarankan bahwa tektonik
lempeng pernah berhenti paling tidak sekali dalam sejarah planet bumi dan dapat
terjadi lagi.
Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses
dinamika bumi tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur
gempa bumi, dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan
lempeng.
Sebuah aspek kunci dari teori tektonik lempeng adalah bahwa
skala waktu geologis lantai samudera adalah fitur transient, membuka dan
menutup saat lempeng2 bergeser. Lantai samudera dikonsumsi oleh sebuah proses
yang disebut subduksi, dimana lempeng tektonik menurun kedalam mantel bumi.
Zona subduksi adalah lokasi dari palung samudera, aktivitas gempa bumi tinggi,
dan sebagian besar gunung api utama dunia.
Saat sebuah lempeng samudera bertabrakan dengan
lempeng samudera lain atau dengan sebuah lempeng yang membawa benua, satu
lempeng akan melengkung dan bergeser dibawah yang lainnya. Proses ini disebut
sibduksi. Saat lempeng tersubduksi tenggelam jauh kedalam mantel, ia menjadi
begitu panas sehingga mencairkan batuan sekitar. Batuan cair naik lewat kerak
dan keluar pada permukaan dari lempeng di atasnya.(Credit: Woods Hole
Oceanographic Institution)
sebagian besar zona subduksi saat ini berada di
lantai samudera pasifik. Bila lantai pasifik sangat dekat, seperti diramalkan
dalam 350 juta tahun saat Amerika yang bergerak ke barat bertabrakan dengan
Eurasia, maka sebagian besar zona subduksi planet akan lenyap bersamanya.
Ini akan secara efektif menghentikan lempeng tektonik kecuali zona subduksi muncul, namun kemunculan subduksi masih belum dimengerti. “Tumbukan India dan Afrika dengan Eurasia antara 30 dan 50 juta tahun lalu menutup sebuah lantai samudera yang dikenal sebagai Tethys,” kata Silver. “Namun tidak ada zona subduksi muncul di selatan india atau afrika untuk mengkompensasi kehilangan subduksi oleh penutupan samudera ini.”
Ini akan secara efektif menghentikan lempeng tektonik kecuali zona subduksi muncul, namun kemunculan subduksi masih belum dimengerti. “Tumbukan India dan Afrika dengan Eurasia antara 30 dan 50 juta tahun lalu menutup sebuah lantai samudera yang dikenal sebagai Tethys,” kata Silver. “Namun tidak ada zona subduksi muncul di selatan india atau afrika untuk mengkompensasi kehilangan subduksi oleh penutupan samudera ini.”
bukti geokimia dari batuan beku purba menunjukkan
bahwa sekitar satu miliar tahun lalu terdapat ketiadaan kegiatan volkanis yang
secara normal terkait subduksi. Gagasan ini cocok dnegan bukti geologis lain
untuk penutupan lantai samudera tipe pasifik saat itu, mengelas benua2 menjadi
sebuah superbenua (dikenal oleg geolog sebagai Rodinia) dan mungkin
menghentikan subduksi sementara waktu. Rodinia terpisah kemudian saat subduksi
dan tektonik lempeng mulai kembali. Lempeng tektonik dikendalikan oleh aliran
panas dari interior bumi, dan penghentian akan menurunkan tingkat pendinginan
Bumi, seperti menutup panci air panas akan memperlambat pendinginan air di
dalamnya. Dengan menutup secara periodik aliran panas, tektonik lempeng saling
tindih dapat menjelaskan kenapa bumi telah kehilangan panas lebih sedikit
daripada model saat ini ramalkan. Dan pembangunan panas dibawah lempeng2 yang
stagnan dapat menjelaskan kemunculan batuan2 beku tertentu ditengah2 benua jauh
dari lokasi normalnya di zona subduksi.
“Bila lempeng tektonik mulai dan berhenti, maka evolusi benua harus dilihat dalam sudut pandang baru, karena ia secara dramatis memperluas jangkauan skenario evolusioner yang mungkin
“Bila lempeng tektonik mulai dan berhenti, maka evolusi benua harus dilihat dalam sudut pandang baru, karena ia secara dramatis memperluas jangkauan skenario evolusioner yang mungkin
Pergerakan Lempeng
Pergerakan
lempeng
Secara teori tektonik lempeng, pembentukan Kepulauan
Indonesia dimulai sekitar 55 juta tahun yang lalu. Indonesia dibentuk oleh
interaksi setidaknya tiga lempeng penyusun bumi; Lempeng Samudera India,
Lempeng Laut Filipina, dan Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng kontinen.
Perbedaan antara lempeng yang disusun oleh lempeng samudera dan kontinen adalah
lempeng samudera bersifat basah karena disusun oleh material yang kaya akan
unsur Fe, Mg dan Ni, bersifat kaku dan brittle, mempunyai berat jenis yang
tinggi, sementara lempeng kontinen merupakan lempeng benua yang secara kimia
bersifat relatif asam dan mempunyai berat jenis lebih rendah dibandingkan
lempeng samudera.
Lempeng-lempeng tadi bergerak satu sama lain di mana
Lempeng Samudera India bergerak relatif ke arah utara dengan kecepatan 7 cm per
tahun, Lempeng Laut Filipina bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 8 cm
per tahun dan lempeng Eurasia yang cenderung stabil. Pergerakan lempeng-lempeng
ini kemudian bertemu pada satu zona tumbukan yang disebut dengan zona subduksi.
Interaksi ketiga lempeng tadi mengakibatkan pengaruh pada
hampir seluruh kepulauan yang ada di Indonesia, kecuali Kalimantan. Pengaruh
dari pergerakan lempeng tadi ada yang langsung berupa pergerakan kerak bumi di
batas pergerakan lempeng tadi, yang akan menimbulkan gempa bumi dan tsunami
apabila pergerakannya terdapat di dasar laut, maupun tidak langsung. Gempa bumi
dan tsunami yang terjadi setahun lalu di Aceh dan Sumatera Utara merupakan
contoh nyata.
Gempa dan tsunami Aceh dihasilkan tunjaman Lempeng Samudera
India ke bawah Lempeng Eurasia. Tunjaman tersebut menghasilkan getaran yang
menimbulkan gempa bumi berkekuatan sekitar 8,9 skala richter. Pusat gempa
tersebut terdapat di Samudera Hindia, tepatnya sekitar 200 km sebelah barat
daya Pulau Sumatera. Getaran gempa yang sangat keras itu kemudian sampai ke
permukaan laut dan menimbulkan gerakan osilasi pada air laut dengan kecepatan
sekitar 700?800 km/jam (setara dengan kecepatan pesawat komersil), yang
akhirnya sampai ke daerah Aceh dan Sumatera Utara dalam bentuk tsunami.
Selain itu pertemuan Lempeng Samudera India dengan Lempeng
Eurasia juga menghasilkan lajur gunung api yang memanjang dari Sumatera sampai
Nusa Tenggara dan membentuk sebuah rangkaian gunung api. Rangkaian gunung api
ini dikenal dengan istilah busur vulkanik dan berhenti di Pulau Sumbawa,
kemudian berbelok arah ke Laut Banda menuju arah utara ke daerah Maluku Utara,
Sulawesi Utara dan terus ke Filipina. Busur gunung api ini sendiri ada yang
masih aktif seperti Gunung Merapi, Gunung Krakatu di Selat Sunda, Gunung
Galunggung dan Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung Merapi di Jogjakarta,
Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani dan Tambora di Nusa Tenggara, Gunung
Gamalama dan Tidore di Maluku Utara, dan Gunung Klabat di Sulawesi Utara.
Pergerakan ketiga lempeng tadi juga dapat menimbulkan
patahan atau sesar yaitu pergeseran antara dua blok batuan baik secara
mendatar, ke atas maupun relatif ke bawah blok lainnya. Patahan atau sesar ini
merupakan perpanjangan gaya yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan lempeng
utama. Patahan atau sesar inilah yang akan menghasilkan gempa bumi di daratan
dan tanah longsor. Akibatnya, bangunan yang ada di atas zona patahan ini sangat
rentan mengalami runtuhan
Patahan atau sesar-sesar ini akan mempengaruhi resistensi
atau kekuatan pada batuan yang dilewatinya, menyebabkan batuan- batuan tadi
menjadi rapuh dan mudah mengalami erosi. Apabila jenis batuan tersebut
merupakan batuan yang porous( berongga), maka akan menimbulkan hal yang lebih
fatal lagi. Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan air hujan masuk ke dalam
rongga batuan dan menyebabkan lama kelamaan batuan tersebut akan menjadi jenuh
yang berujung pada terjadinya pergerakan massa batuan dalam bentuk blok besar
yang menimbulkan tanah longsor, terutama daerah dengan kemiringan lereng yang
curam.
Faktor manusia juga sangat mempengaruhi terjadinya tanah
longsor ini, terutama yang disertai dengan bencana banjir bandang. Adanya
penggundulan hutan terutama illegal logging dan pembukaan lahan yang tidak
memperhatikan kaidah lingkungan, menjadi salah satu yang memicu terjadinya
tanah longsor disertai dengan banjir bandang. Permukaan tanah yang telah gundul
menyebabkan air hujan yang turun ke permukaan tanah tidak dapat diserap oleh
tanah (tidak terjadi infiltrasi), akibatnya air tersebut akan mengalir di
permukaan, dan membawa material di atas tanah tadi dalam bentuk sedimen.
Sedimen tadi kemudian diangkut ke sungai dan dibawa ke hilir, yang menyebabkan
pendangkalan dan kemudian terjadi banjir di hilir sungai, yang nota bene
umumnya merupakan wilayah pemukiman
Pengembangan wilayah yang juga tidak memperhatikan aspek
lingkungan juga mempengaruhi volume dan frekuensi banjir. Manusia mendirikan
pemukiman yang pada dasarnya merupakan dataran banjir, yaitu daerah yang akan
tergenang oleh air sungai apabila terjadi banjir. Hal ini yang terjadi di
Gunung Leuser (Aceh), Gunung Bawakaraeng dan di Desa Manipi (Sulawesi Selatan)
, serta kejadian tanah longsor dan banjir bandang di Jember dan Banjarnegara
yang baru-baru ini.
Sebenarnya sebelum bencana longsor dan banjir bandang di
Jember dan Banjarnegara terjadi, Direktorat Vulkanologi dan Bencana Alam
Geologi telah memberikan warning kepada pemerintah setempat bahwa daerahnya
sangat rawan bencana longsor dan banjir bandang. Kedua daerah tersebut masuk
dalam peta rawan bencana alam longsor yang dibuat pada tanggal 31 Oktober 2005.
Di Pulau Jawa dan Madura sendiri telah dipetakan ada 23 titik bencana alam
geologi yang tersebar, ada yang dalam kondisi sedang, rawan sampai sangat
rawan.
Dari pemaparan di atas jelas tergambar bahwa kejadian
bencana alam yang akhir-akhir ini menjadi sebuah fenomena, sangat erat
hubungannya dengan proses pembentukan Kepulauan Indonesia secara geologi.
Pelajaran berharga yang dapat kita ambil adalah bahwa kita tidak bisa lari dari
kenyataan bahwa kita hidup di daerah yang rawan akan bencana alam, khususnya
bencana alam geologi, yaitu gempa bumi, tsunami, tanah longsor, gunung api dan
banjir. Olehnya itu, pemahaman tentang bagaimana sebenarnya kondisi Indonesia
dalam perspektif kebencanaan harus disosialisasikan ke masyarakat mengingat
ilmu kebumian utamanya ilmu geologi merupakan ilmu yang kurang diketahui oleh
masyarakat luas. Kita harus tidak gengsi mencontoh Jepang yang juga secara
geologi proses pembentukannya tidak jauh berbeda bahkan lebih kompleks lagi. Di
negeri matahari terbit ini, pemahaman dini tentang bencana alam atau lebih
dikenal dengan early warning system telah diterapkan dari bangku taman
kanak-kanak. Pemerintah yang merupakan pengambil kebijakan harus lebih aware
akan hal ini, sehingga korban bencana alam bisa ditekan dan diminimalkan,
terutama korban jiwa.
Langganan:
Postingan (Atom)